SOLO – Ratu Maxima dari Belanda menyempatkan diri berdialog dengan perajin batik di Solo, Jawa Tengah, Selasa (26/11/2025), dalam kunjungan kerjanya ke Indonesia selaku Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Inklusi Keuangan.
Pertemuan hangat tersebut berlangsung di Kampung Batik Laweyan, di mana Ratu Maxima berbincang langsung dengan Eny Zaqiyah, seorang pengusaha batik yang telah merasakan manfaat layanan keuangan inklusif.
Dalam dialog tersebut, Ratu Maxima tidak hanya mendengarkan cerita sukses namun juga menyelami dinamika usaha, mulai dari kondisi keuangan, pertumbuhan bisnis, hingga tantangan pola penjualan yang bersifat musiman.
Dari Pinjaman Mikro hingga Pasar Internasional
Eny Zaqiyah dengan antusias menceritakan bagaimana usahanya terus berkembang selama tiga tahun terakhir setelah memanfaatkan layanan dari Amartha, sebuah perusahaan fintech lokal.
"Dengan adanya Amartha, usaha saya semakin berkembang. Kami sering diikutsertakan dalam pameran di berbagai daerah dan mendapat pelatihan pemasaran," ujar Eny. Ia dengan bangga menambahkan bahwa produk batiknya kini telah menjangkau konsumen dari luar negeri.
Kisah Eny adalah salah satu contoh nyata dampak inklusi keuangan yang ingin didorong oleh Ratu Maxima. Melalui akses permodalan yang tepat, usaha mikro yang sebelumnya terbatas jangkauannya dapat bertransformasi menjadi usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Komitmen Amartha untuk Pemberdayaan Perempuan
Harumi Supit, Wakil Presiden Hubungan Masyarakat Amartha, menjelaskan bahwa perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini memang berfokus pada pemberdayaan perempuan, khususnya para ibu rumah tangga.
"Kami memulai dengan program pemberdayaan usaha dan pinjaman mikro mulai dari Rp5 juta," jelas Harumi. Ia menekankan bahwa Amartha telah mendukung banyak usaha mikro dan kecil di Kampung Batik Laweyan, yang dikenal sebagai salah satu sentra batik tertua di Indonesia.
Ratu Maxima Merasakan Proses Membatik
Kunjungan kerja ini tidak hanya berisi pembicaraan serius. Ratu Maxima juga mencoba langsung proses membatik, salah satu warisan budaya tak benda UNESCO yang berasal dari Kota Solo.
Dengan ditemani Eny, Ratu asal Belanda itu mempraktikkan teknik menorehkan malam (lilin batik) di atas kain. Pengalaman hands-on ini memberinya apresiasi mendalam terhadap kerumitan dan nilai seni yang terkandung dalam setiap helai kain batik.
"Terima kasih sudah mengajarkan saya cara menjadi pembuat batik, tapi saya rasa saya tidak akan pernah menjadi ahli dalam hal ini," canda Ratu Maxima kepada Eny, disambut tawa hangat para hadirin.
Kunjungan Ratu Maxima ke Solo ini mempertegas pentingnya kolaborasi berbagai pihak—dari lembaga internasional, pemerintah, hingga pelaku fintech—dalam memperluas akses keuangan bagi pelaku usaha mikro. Kisah sukses Eny Zaqiyah menjadi bukti bahwa ketika akses keuangan terbuka, tidak hanya perekonomian keluarga yang membaik, tetapi juga warisan budaya seperti batik dapat terus hidup dan bersaing di kancah global.
Reviewed by Pamanah Rasa
on
8:10:00 PM
Rating:
No comments: